Sponsor

Thursday, May 16, 2013

EMPIRISME





I.   PENDAHULUAN

Tradisi pemikiran Barat dewasa ini merupakan paradigma bagi pengembangan budaya Barat dengan implikasi yang sangat luas dan mendalam di semua segi dari seluruh lini kehidupan. Memahami tradisi pemikiran Barat sebagaimana tercermin dalam pandangan filsafatnya merupakan kearifan tersendiri, karena kita akan dapat melacak segi-segi positifnya yang layak kita tiru dan menemukan sisi-sisi negatifnya untuk tidak kita ulangi.
Kemunculan sebuah pemikiran tidak bisa lepas dari nilai yang mempengaruhi dari peristiwa dan pemikiran yang hidup dan berkembang sebelumnya. Juga halnya dengan empirisme, konsep pengetahuan ini tidaklah berada para ruang hampa yang tidak mengakar pada realitas pemikiran sebelumnya.
Empirisme telah menyumbangkan banyak hal dalam ilmu pengetahuan. Kaum empiris mengkuduskan eksperimen dan pemahaman ilmiah, dan yang mengumumkan dengan sangat bangga bahwa mereka tidak mempercayai gagasan apapun selama belum ditetapkan dengan eksperimen dan dibuktikan dengan secara empiric.
II.  PEMBAHASAN
Kaum empiris adalah mereka yang mengkuduskan eksperimen dan pemahaman ilmiah, dan yang mengumumkan dengan sangat bangga bahwa mereka tidak mempercayai gagasan apapun selama belum ditetapkan dengan eksperimen dan dibuktikan dengan secara empiric. (mereka terus berkata) bahwa karena posisi teologi ini berkenaan dengan persoalan ghoib diluar batas - batas indra dan eksperimen, maka kita wajib mengesampingkannya, dan berpaling kepada kebenaran- kebenaran dan pengetahuan yang dicerap dalam lapangan eksperimen.[1]
Empirisme berasal dari kata Yunani ”empiria” yang berarti pengalaman inderawi. Karena itu empirisme dinisbatkan kepada faham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan, baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia. Seorang yang beraliran empirisme biasanya berpendirian bahwa pengetahuan di dapat melalui penampungan yang secara pasif menerima hasil- hasil penginderaan. Ini berarti bahwa semua pengetahuan, betapapun rumitnya pengetahuan, dapat dilacak kembali dan apa yang tidak dapat bukanlah pengetahuan. Lebih lanjut penganut empirisme mengatakan bahwa pengalaman tidak lain akibat suatu objek yang merangsang alat- alat inderawi, yang kemudian dipahami di dalam otak dan akibat dari rangsangan tersebut terbentuklah tanggapan- tanggapan mengenai objek yang merangsanng  alat- alat inderawi tersebut[2].
Empirisme adalah aliran yang menjadikan pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Aliran ini beranggapan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dengan cara observasi/ penginderaan. Pengalaman merupakan faktor fundamental dalam pengetahuan, ia merupakan sumber dari pengetahuan manusia.[3] Tanpa adanya rangsangan dan informasi dari indera maka manusia tidak akan memperoleh pengetahuan apapun, karena inderalah yang merupakan sumber utama pengetahuan dalam pandangan kaum empiris.

Perjalanan empirisme yang dimulai dari Plato sampai John Locke. Empirisme lahir sebagai kritik dan ketidakpuasan metode yang dipakai rasionalisme dalam mencari kebenaran. Salah satu kritikannya adalah bahwa tidak sepenuhnya benar apa yang berasal dari akal, bahkan akal mungkin menipu dalam segala pembuktiannya. Namun Rasionaisme pun tidak mau kalah, mereka menentang pamikiran kaum empirisme dengan mengatakan bahwa akal merupakan faktor fundamental dalam suatu pengetahuan. Dan menurut rasionalisme, pengalaman tidak mungkin dapat menguji kebenaran hukum ”sebab- akibat”
Para pemikir Inggris bergerak ke arah yang berbeda dengan tema yang di rintis oleh Descrates. Mereka  lebih mengikuti mengikuti jejak Francis Bacon, yaitu aliran empirisme.[4]
Orang pertama pada abad ke 17 yang mengikuti aliran empirisme di Inggris adalah Thomas Hobes (1588- 1679). Jika Bacon lebih berarti dalam bidang doktrin dan ajaran, Hobes telah menyusun suatu sistem yang lengkap berdasar kepada empirisme secara konsekuen. Meskipun ia bertolak pada dasar- dasar empiris, namun ia menerima juga metode yang dipakai dalam ilmu alam yang bersifat matematis. ia telah mempersatukan empirisme dengan rasonalisme matematis. Ia menyatukannya dalam bentuk suatu filsafat materialis yang konsekuen pada zaman modern.[5]
Selanjutnya tradisi empirisme diteruskan oleh John Locke (1632- 1704) yang untuk pertama kali menerapkan metode empiris kepada persoalan- persoala tentang pengenalah- pengenalan / pengetahuan. Bagi Locke yang terpentinng adalah menguraikan cara manusia mengenal. Locke berusaha menggabungkan teori- teori empirisme seperti yang di ajarkan Bacon dan Hobes dengan ajaran Rasionalisme Descrates. Usaha ini untuk meperkuat ajaran empirismenya. Ia menentang teori rasionalisme mengenai idea- idea dan asas- asas  pertama yang di pandang sebagai bawaan manusia. Menurut dia segala pengetahuan datang dari pengalaman dan tidak lebih dari itu. Peran akal pasif pada waktu pengetahuan di dapatkan. Oleh karena itu akal tidak melahirkan pengetahuan dari dirinya sendiri.[6]
Di tangan empirisme Locke, filsafat mengalami perubahan arah jika rasionalisme Descrates mengajarkan bahwa pengetahuan yang paling  berharga tidak berasal dari pengalaman, maka menurut Locke, pengalamanlah yang menjadi dasar bagi segala pengetahuan.[7]
Pada abad ke-20 kaum empiris cenderung menggunakan teori makna mereka pada penentuan apakah suatu konsep diterapkan dengan benar atau tidak, bukan pada asal-usul pengetahuan. Salah satu contoh penggunaan empirisme secara pragmatis ini ialah pada Charles Sanders Peirce dalam kalimat “Tentukanlah apa pengaruh konsep itu pada praktek yang dapat dipahami kemudian konsep tentang pengaruh itu, itulah konsep tentang objek tersebut”. [8]

Terdapat beberapa Jenis Empirisme, yaitu
1.      Empirio-kritisisme
Disebut juga Machisme. ebuah aliran filsafat yang bersifat subyaktif-idealistik. Aliran ini didirikan oleh Avenarius dan Mach. Inti aliran ini adalah ingin “membersihkan” pengertian pengalaman dari konsep substansi, keniscayaan, kausalitas, dan sebagainya, sebagai pengertian apriori. Sebagai gantinya aliran ini mengajukan konsep dunia sebagai kumpulan jumlah elemen-elemen netral atau sensasi-sensasi (pencerapan-pencerapan). Aliran ini dapat dikatakan sebagai kebangkitan kembali ide Barkeley dan Hume tatapi secara sembunyi-sembunyi, karena dituntut oleh tuntunan sifat netral filsafat. Aliran ini juga anti metafisik.

2.      Empirisme Logis
Analisis logis Modern dapat diterapkan pada pemecahan-pemecahan problem filosofis dan ilmiah. Empirisme Logis berpegang pada pandangan-pandangan berikut :
a.       Ada batas-batas bagi Empirisme. Prinsip system logika formal dan prinsip kesimpulan induktif tidak dapat dibuktikan dengan mengacu pada pengalaman.
b.      Semua proposisi yang benar dapat dijabarkan (direduksikan) pada proposisi-proposisi mengenai data inderawi yang kurang lebih merupakan data indera yang ada seketika
c.       Pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat kenyataan yang terdalam pada dasarnya tidak mengandung makna.

3.      Empiris Radikal
Suatu aliran yang berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai pada pengalaman inderawi. Apa yang tidak dapat dilacak secara demikian itu, dianggap bukan pengetahuan. Soal kemungkinan melawan kepastian atau masalah kekeliruan melawan kebenaran telah menimbulkan banyak pertentangan dalam filsafat. Ada pihak yang belum dapat menerima pernyataan bahwa penyelidikan empiris hanya dapa memberikan kepada kita suatu pengetahuan yang belum pasti (Probable). Mereka mengatakan bahwa pernyataan- pernyataan empiris, dapat diterima sebagai pasti jika tidak ada kemungkinan untuk mengujinya lebih lanjut dan dengan begitu tak ada dasar untukkeraguan. Dalam situasi semacam iti, kita tidak hanya berkata: Aku merasa yakin (I feel certain), tetapi aku yakin. Kelompok falibisme akan menjawab bahwa: tak ada pernyataan empiris yang pasti karena terdapat sejumlah tak terbatas data inderawi untuk setiap benda, dan bukti-bukti tidak dapat ditimba sampai habis sama sekali.[9]

Ada dua ciri pokok empirisme, yaitu mengenai teori tentang makna dan teori tentang pengetahuan.
Teori makna pada aliran empirisme biasanya dinyatakan sebagai teori tentang asal pengetahuan, yaitu asal-usul idea atau konsep. Pada abad pertengahan teori ini diringkas dalam rumus Nihil est in intellectu quod non prius fuerit in sensu (tidak ada sesuatu di dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman). Sebenarnya pernyataan ini merupakan tesis Locke yang terdapat dalam bukunya, An Essay Concerning Human Understanding, yang dikeluarkannya tatkala ia menentang ajaran idea bawaan (innate idea) pada orang-orang rasionalis. Jiwa (mind) itu, tatkala orang dilahirkan, keadaannya kosong, laksana kertas putih atau tabula rasa, yang belum ada tulisan di atasnya, dan setiap idea yang diperolehnya mestilah datang melalui pengalaman; yang dimaksud dengan pengalaman di sini ialah pengalaman inderawi. Atau pengetahuan itu datang dari observasi yang kita lakukan terhadap jiwa (mind) kita sendiri dengan alat yang oleh Locke disebut inner sense (pengindera dalam).[10]
Pada abad ke-20 kaum empiris cenderung menggunakan teori makna mereka pada penentuan apakah suatu konsep diterapkan dengan benar atau tidak, bukan pada asal-usul pengetahuan. Salah satu contoh penggunaan empirisme secara pragmatis ini ialah pada Charles Sanders Peirce dalam kalimat “Tentukanlah apa pengaruh konsep itu pada praktek yang dapat dipahami kemudian konsep tentang pengaruh itu, itulah konsep tentang objek tersebut”.
Filsafat empirisme tentang teori makna amat berdekatan dengan aliran positivisme logis (logical positivism) dan filsafat Ludwig Wittgenstein. Akan tetapi, teori makna dan empirisme selalu harus dipahami lewat penafsiran pengalaman. Oleh karena itu, bagi orang empiris jiwa dapat dipahami sebagai gelombang pengalaman kesadaran, materi sebagai pola (pattern) jumlah yang dapat diindera, dan hubungan kausalitas sebagai urutan peristiwa yang sama.
Teori kedua, yaitu teori pengetahuan, dapat diringkaskan sebagai berikut: Menurut orang rasionalis ada beberapa kebenaran umum, seperti “setiap kejadian tentu mempunyai sebab”, dasar-dasar matematika, dan beberapa prinsip dasar etika, dan kebenaran-kebenaran itu benar dengan sendirinya yang dikenal dengan istilah kebenaran a priori yang diperoleh lewat intuisi rasional. Empirisme menolak pendapat itu. Tidak ada kemampuan intuisi rasional itu. Semua kebenaran yang disebut tadi adalah kebenaran yang diperoleh lewat observasi jadi ia kebenaran a posteriori[11].

D.    Tokoh Empirisme
1.      Thomas Hobbes
Thomas Hobbes lahir di Inggris pada tahun 1558 M. I adalah putra dari pastor yang membangkang dan suka berdebat. Keluarganya terpaksa keluar dari daerahnya akibat situasi yang kurang mendukung. Thomas Hobbes adalah sosok yangh cerdas, terbukti pada umur 6 tahun sudah menguasai bahasa Yunani dan Latin dengan amat baik dan pada umur 15 tahun sudah belajar di Oxford University.[12]
Orang pertama pada abad ke-17 yang mengikuti aliran empirisme di Inggris adalah Thomas Hobbes (1588-1679). Jika Bacon lebih berarti dalam bidang metode penelitian, maka Hobbes dalam bidang doktrin atau ajaran. Hobbes telah menyusun suatu sistem yang lengkap berdasar kepada empirisme secara konsekuen. Meskipun ia bertolak pada dasar-dasar empiris, namun ia menerima juga metode yang dipakai dalam ilmu alam yang bersifat matematis. Ia telah mempersatukan empirisme dengan rasionalisme matematis. Ia mempersatukan empirisme dengan rasionalisme dalam bentuk suatu filsafat materialistis yang konsekuen pada zaman modern.
Menurut Hobbes, tidak semua yang diamati pada benda-benda itu adalah nyata, tetapi yang benar-benar nyata adalah gerak dari bagian-bagian kecil benda-benda itu. Segala gejala pada benda yang menunjukkan sifat benda itu ternyata hanya perasaan yang ada pada si pengamat saja. Segala yang ada ditentukan oleh sebab yang hukumnya sesuai dengan hukum ilmu pasti dan ilmu alam. Dunia adalah keseluruhan sebab akibat termasuk situasi kesadaran kita.[13]
Hobbes memandang bahwa pengenalan dengan akal hanyalah mempunyai fungsi mekanis semata-mata. Ketika melakukan proses penjumlahan dan pengurangan misalnya, pengalaman dan akal yang mewujudkannya. Yang dimaksud dengan pengalaman adalah keseluruhan atau totalitas pengamatan yang disimpan dalam ingatan atau digabungkan dengan suatu pengharapan akan masa depan, sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa lalu. Pengamatan inderawi terjadi karena gerak benda-benda di luar kita menyebabkan adanya suatu gerak di dalam indera kita. Gerak ini diteruskan ke otak kita kemudian ke jantung. Di dalam jantung timbul reaksi, yaitu suatu gerak dalam jurusan yang sebaliknya. Pengamatan yang sebenarnya terjadi  pada awal gerak reaksi tadi.
Hobbes menyatakan bahwa tidak ada yang universal kecuali nama belaka. Konsekuensinya ide dapat digambarkan melalui kata-kata. Dengan kata lain, tanpa kata-kata ide tidak dapat digambarkan. Tanpa bahasa tidak ada kebenaran atau kebohongan. Sebab, apa yang dikatakan benar atau tidak benar itu hanya sekedar sifat saja dari kata-kata. Setiap benda diberi nama dan membuat ciri atau identitas-identitas di dalam pikiran orang.

2.      John Locke
John Locke lahir di Inggris pada tanggal 29 Agustus 1632 dan meninggal pada 28 Oktober 1704 M. Karenanya dia di sebut filsuf inggris dengan pandangan empirisme. Locke sering di  sebut sebagai tokoh yang membrerikan titik terang dalam perkembangan psikologi. Teori yang sangat penting darinya adalah tentang gejala kejiwaan adalah bahwa jiwa itu pada saat mula- mula seseorang dilahirkan masih bersih bagaikan sebuah tabula rasa.[14]
Fokus filsafat Locke adalah antitesis pemikiran Descrates. Baginya, pemikiran Descrates mengenai akal budi kurang sempurna. Ia menyarankan, sebagai akal budi dan spekulasi abstrak, kita seharus menaruh perhatian dan kepercayaan kepada pengalaman dalam menangkap fenomena alam melalui panca indra. Ia hadir secara apeteriori. Pengenalan manusia terhadap seluruh pengalaman yang dilaluinya melalui mencium, merasa, mengecap, dan mendengar menjadi dasar bagi hadirnya gagasan- gagasan dan pikiran sederhana.[15]
Yang membedakan Locke dengan lainnya adalah karakter pemikirannya yang empiris di bangun atas dasar tunggal dan serbaguna. Semua pengalaman (pengetahuan), kata Locke, berawal dari pengalaman. Pengalaman memberi kita sensasi- sensasi. Dari sensasi ini kite memperoleh berbagai macam ide baru yang lebih kompleks. Dan pikiran kita terpengaruh oleh perasaan refleksi. Kendati Locke berbeda pandangan dengan filsuf lain, namun Locke juga menerima metafora sentral Cartesian, pembedaan antara pikiran dan tubuh. Terbukti, dia memandang bahwa pengetahuan pertama- tama berkenaan dengan pemeriksaan pikiran.[16]
Selain itu, Locke membedakan antara apa yang dinamakannya “kualitas primer” dan “kualitas skunder”. Yang dimaksud dengan kualitas primer adalah luas, berat,Yang dimaksud dengan kualitas primer adalah luas, berat, gerakan, jumlah dan sebagainya. Jika sampai pada masalah kualitas seperti ini, kita dapat merasa yakin bahwa indra- indra menirunya secara objektif. Tapi kita juga akan merasakan kualitas- kualitas lain dalam benda – benda. Kita akan mengatakan bahwa sesuatu itu manis atau pahit, hijau atau merah. Locke menyebut ini sebagai kualitas skunder. Penginderaan semacam ini tidak meniru kualitas- kualitas sejati yang melekat pada benda- benda itu sendiri.[17]
Proyek epistemologis Locke mencapai puncaknya dalam positivisme. Inspirasi filosofis empirisme terhadap positivisme  terutama adalah prinsip objektivitas ilmu pengetahuan. Empirisme memiliki keyakinan bahwa semesta adalah sesuatu yang hadir melalui data indrawi. Karenanya pengetahuan harus berumber pengalaman dan pengamatan empirik.[18]

3.      David Hume
David Hume lahir pada tahun 1711 dan wafat pada tahun 1776 . Hume adalah pelopor para empiris, yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari indra. Menurutnya, ada batasan- batasan yang tegas tentang bagaimana kesimpulan dapat  diambil melalui persepsi indra. David Hume lah aliran empirisme memuncak . empirisme mendasarkan pengetahuan bersumber pada pengalaman, bukan rasio. Hume memilih pengalman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengetahuan itu dapat bersifat lahiriah  dan  dapat pula bersifat batiniyah. Oleh karena itu pengenalan inderawi meruakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna.
Dua hal yang dicermati oleh Hume adalah substansi dan kausalitas. Hume tidak menerima substansi, sebab yang dialami manusia hanya kesan- kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu ada bersama- sama. Dari kesan muncul gagasan. Kesan adalah hasil penginderaan langsung atas realitas lahiriah, sedang gagasan adalah ingatan akan kesan- kesan.[19]

Empirisme memiliki andil yang besar dalam ilmu, yaitu dalam pengemangan berpikir induktif. Dalam ilmu pengetahuan, sumbangan utama adalah lahirnya ilmu pengetahuan modern dan penerapan metode ilmiah untuk membangun pengetahuan. Selain daripada itu, tradisi empirisme adalah fundamen yang mengawali mata rantai evolusi ilmu pengetahuan sosial, terutama dalam konteks perdebatan apakah ilmu pengetahuan sosial itu berbeda dengan ilmu alam. Sejak saat itu empirisme menempati tempat yang terhormat dalam metodologi ilmu pengertahuan sosial. Acapkali empirisme di paralelkan dengan tradisi positivisme. Namun demikian keduanya mewakili pemikiran filsafat ilmu yang berbeda .
Sedangkan dalam Islam, Empirisme dalam Islam mempunyai peran penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan seperti ilmu Fiqh yang bebasis empiris, yaitu (ibadah mumalah), shalat, zakat, puasa, dan haji.
Empirisme lahir dan terjebak kepada afirmasi rasio praksis dan menegasikan rasio murni sehingga muncul dogmatisme empiris sendiri, terlebih dengan membangun kecurigaan/ ketidakpercayaan/ menegasikan (skeptisis) terhadap epistema yang lainnya telah banyak dianut oleh pendidikan modern, inilah bukti kenaifannya.
Dampak epistemologis dari empirisme diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Terjadinya pemisahan antara bidang sankral dan bidang duniawi, misalnya pemisahan antara agama dan negara, agama dan politik, atau pemisahan materi dan ruh yang terwujud dalam seorang ahli fisika atau ekonomi tidak akan berbicara agama dalam karya ilmiah mereka, sementara fisika dan ekonomi direduksi menjadi angka-angka, materi dan ruh tampak tidak kompatebel di mata mereka.[20]
2.      Kecendrungan kearah reduksionisme, materi dan benda direduksi kepada element-elemennya. Ini tampak pada fisika Newton, sama halnya dengan homo ekonomi-kus dalam ekonomi modern. (dua hal ini pengaruh sejarah rasionalisme empirisme).
3.      Pemisahan antara subyektivitas dan obyektifitas, misalnya dalam ilmu sosial hal yang merupakan debuku obyektif adalalah keniscayaan yang mengarah kepada relitas pasti, (pengaruh positivisme pengetahuan yang berujung pada statusquo hinggga dominasi kebenaran).
4.      Antroposentrisme, ini tampak dalam dalam konsep demokrasi dan individualisme (ini merupakan pengaruh dari rasionalisme Rendescartes dengan jargon individu bebas atau subyek manusia akan menjadi sentral peradaban dunia).
5.      Progresivisme, progresivisme diwakili oleh Marx, tetapi juga diyakini secara luas seperti pada kemajuan ilmu pengetahuan dan obat-obatan.


KESIMPULAN
Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang berpendapat bahwa empiri atau pengalamanlah yang menjadi sumber pengetahuan. Akal bukanlah sumber pengetahuan, akan tetapi akal berfungsi mengolah data-data yang diperoleh dari pengalaman. Metode yang digunakan adalah metode induktif. Jika rasionalisme menonjolkan “aku” yang metafisik, maka empirisme menonjolkan “aku” yang empiris.
Empirisme barawal dari Plato hingga John Locke. Diantara tokoh- tokohnya adalah Davide Hume, Thomas Hobbes, dll. Empirisme memiliki banyak pengaruh dalam bidang ilmu pengetahuan. Diantaranya adalah dalam pengemangan berpikir induktif, tradisi empirisme adalah fundamen yang mengawali mata rantai evolusi ilmu pengetahuan sosial, terutama dalam konteks perdebatan apakah ilmu pengetahuan sosial itu berbeda dengan ilmu alam, dll.
Ada dua ciri pokok empirisme, yaitu mengenai teori tentang makna dan teori tentang pengetahuan. Teori makna pada aliran empirisme biasanya dinyatakan sebagai teori tentang asal pengetahuan, yaitu asal-usul idea atau konsep dan teori pengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA
Adian, Donny Gahral, 2002. Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan dari David Hume sampai Thomas Khun. Jakarta: Teraju
Ash- Shadr, Muhammad Baqir,1994. Falsafatuna. Bandung: Mizan, 1994
Bagus , Lorens,1996. Kamus Filsafat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Bambang Q. Anees & Radea Juli A. Hanbali. Filsafat Umum, (cet.I Jakarta: Prenada Media, 2003)
Hadiwijono, Harun,1993. Sari Sejarah Filsafat  Barat 2. Yogyakarta: Kanisius. Cet IX
Maksum, Ali. 2008. Pengantar Filsafat dari masa Klasik Hingga Potmodernisme Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Q- Anees, Bambang. dan Radea Juli A. Hambali, 2003. Filsafat Untuk Umum Jakarta: Kencana
Sadullah, Uyyoh, 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Schmad, Henry J., 2002. Filsafat Politik: Kajian Toeri Historis dari Zaman Yunani Kuno sampai Zaman Modern Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Shimogaki, Kazuo. Tt. Kiri Islam (antara modernisme dan posmodernisme) trj. Azis dan Jadul Yogyakarta: Lkis
Solomon, Robert C.  & Kathleen M. Higgins 2002. A Short History of Philosophy, terjemahan. Yogyakarta: Bentang Budaya
Tafsir, Ahmad. 2008. Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra Bandung: PT. Remaja Rosdakarya



[1] Muhammad Baqir Ash- Shadr, Falsafatuna, (Bandung: Mizan, 1994) hlm. 237
[2] Ali Maksum, Pengantar Filsafat dari masa Klasik Hingga Potmodernisme (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008) hlm.357.
[3] Uyyoh Sadullah, Pengantar Filsafat Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2003), hlm 32.
[4] Harun Hadiwijono, Srai Sejarah Filsafat  Barat 2 (cet. IX: Yogyakarta: Kanisius: 1993)hlm. 31
[5] Harun Hadiwijono, Op.Cit. hlm. 32
[6] Ibid., hlm. 36
[7] Bambang Q. Anees & Radea Juli A. Hanbali. Filsafat Umum, (cet.I Jakarta: Prenada Media, 2003) hlm. 314
[8] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra (Bandung: Rosda, 2008), hlm.174
[9] Lorens Bagus, Kamus Filsafat. (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama: 1996) hlm. 201
[10] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra (Bandung: Rosda, 2008), hlm. 175- 174
[11] Ibid., hlm.174
[12] Henry J. Schmad, Filsafat Politik: Kajian Toeri Historis dari Zaman Yunani Kuno sampai Zaman Modern (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 309
[13] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Cet. IX; Yogyakarta: Kanisius, 1993), hlm. 11
[14] Robert C. Solomon & Kathleen M. Higgins 2002. A Short History of Philosophy, terjemahan. Yogyakarta: Bentang Budaya hlm. 386- 387
[15] Donny Gahral Adian, Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan dari David Hume sampai Thomas Khun, (Jakarta: Teraju, 2002) hlm. 49
[16] Solomon, Sejarah Filsafat.. hlm. 387
[17] Ali Maksum.  Pengantar filsafat: dari Masa Klasik hingga Postmodernisme  (Jakarta: Ar Ruzz Media,2008) hlm. 134
[18] Bambang Q- Anees dan Radea Juli A. Hambali, Filsafat Untuk Umum (Jakarta: Kencana, 2003) hlm. 337
[19] Muji Sutrisno dan F. Budi Hardiman, Para Filsuf Penentu Gerak Zaman (Yogyakarta: kanisius, 1992). Hlm. 61
[20] Kazuo Shimogaki, Kiri Islam (antara modernisme dan posmodernisme) trj. Azis dan Jadul (Yogyakarta: Lkis) hlm. 26

Tuesday, May 14, 2013

PEMBAHARUAN ISLAM PERSATUAN ISLAM DAN NAHDLATUL ULAMA




Disusun dan Diajukan Guna Memenuhi Tugas Individu
Mata Kuliah : Pergerakan Pemikiran Modern Dalam Islam
Dosen Pengampu : Arsam, M.S.I

Disusun oleh :
                        Nama                :                      Siti Iskarimah
                        NIM                  :                      102331171
                        Kelas                 :                      5 PAI 4



JURUSAN TARBIYAH
2012



BAB I
PENDAHULUAN

            Masyarakat Indonesia dewsa ini merupakan masyarakat peralihan yang mengalami transformasi sosial, politik ekonomi dan budaya yang cepat serta memperoleh pengaruh dari dunia luar secara intens, industrialisasi, urbanisasi, sekulerisasi, polarisasi masyarakat Indonesia yang cendrung menjadi berbagai kelas merupakan proses yang terus berjalan dengan segala macam implikasinya. Dalam kontekes perubahan atau pembaharuan inilah organisasi islam yang berkembang dalam bidang agama dan politik yang banyak di bahas di kalangan masayarakat luas, dan juga di makalah ini terdapat organisasi organisasi islam yang berkembang di Indonesia yang berkenaan dengan masalah keagamaan dan politik dari prasejarah hinga hingga pembaharuan keislamannya.Organisasi yang dibahas dalam makalah ini ialah Persatuan Islam atau yang sering disingkat dengan PERSIS dan Nahdlatul ulama yang sering disingkat dengan NU.




BAB II
Persatuan Islam didirikan secara formal pada tanggal 11 September 1923 di Bandung oleh sekelompok umat Islam yang tertarik pada kajian dan aktivitas keagamaan. [1] pada beberapaa sumber mengatakan bahwa Persatuan Islam berdiri pada 1 Shafar 1342 H, bertepatan dengan 12 September 1923, kelompok tadarusan (penelaahan agama Islam ) di Kota Bandung yang dipimpin oleh Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus. Kelompok tadarusan yang berjumlah sekitar 20 orang itu menelaah, mengkaji, dan menguji ajaran-ajaran Islam yang berkembang di tengah masyarakat. Yang kemudian sepakat mendirikan organisasi yang diberi nama Persatuan Islam. Nama Persatuan Islam ini diberikan dengan maksud untuk mengarahkan ruhul-ijtihad dan jihad: berusaha sekuat tenaga mencapai harapan dan cita-cita yang sesuai dengan kehendak dan cita-cita organisasi, yaitu persatuan pemikiran Islam, persatuan rasa Islam, persatuan suara Islam, dan persatuan usaha Islam.[2]
PERSIS didirikan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman Islam yang sesuai dengan aslinya yang dibawa oleh Rasulullah Saw dan memberikan pandangan berbeda dari pemahaman Islam tradisional yang dianggap sudah tidak orisinil karena bercampur dengan budaya lokal, sikap taklid buta, sikap tidak kritis, dan tidak mau menggali Islam lebih dalam dengan membuka Kitab-kitab Hadits yang shahih. Oleh karena itu, lewat para ulamanya seperti Ahmad Hassan yang juga dikenal dengan Hassan Bandung atau Hassan Bangil, Persis mengenalkan Islam yang hanya bersumber dari Al-Quran dan Hadits (sabda Nabi).[3]
Pendirian Persatuan Islam merupakan usaha sejumlah umat Islam untuk memperluas diskusi- diskusi tenteng topik- topik keagamaan yang telah dilakukan pada basis informal selama beberapa bulan. Umat Islam yang terlibat dalam diskusi- diskusi ini semuanya adalah kelas pedagang dan berasal dari kelomppok- kelompok keluarga yang dua generasi lebih awal telah migrasi, karena alasan perdagangan dari daerah Palembang di Sumatera ke daerah Jawa Barat. Dua tokoh Utama dalam diskusi- diskusi ini adalah Hadji Zamzam, dan Hadji Mahmud Junus.[4]
Pada waktu berdirinya, umat terbelenggu oleh fatwa-fatwa tidak berdasar Alquran dan Sunah, hanyut antara unsur Islam dan unsur pra-Islam.[5]
Nama “Persatuan Islam” mengisyaratkan rûh al-ijtihâddan jihad, persatuan pemikiran Islam, persatuan rasa Islam, persatuan usaha Islam, dan persatuan suara Islam.
Di ilhami QS.Ali Imran ayat 103, yaitu;
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”
Dan hadis Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan oleh Turmuzi: “Kekuatan Allah itu beserta jama’ah”.[6]
Organisasi ini dikenal luas sebauah gerakan pembaruan Islam ( harakah tajdid ). Misi utamanya adalah mengembalikan umat Islam kepada Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Persis lahir untuk menghadirkan Islam yang sesuai dengan kedua sumber hukum Islam tersebut.[7]
Beberapa tokoh yang dalam Persatuan Islam Indonesia diantaranya:[8]
1)      Muhammad Isa Anshary Politikus dan Pejuang Indonesia.
3)      KH.Ahmad Hassan Teman Debat Soekarno Ketika di Bandung
4)      Haji ZamZam Pendiri Persis
5)      Haji Mohammad Yunus Pendiri Persis
6)      KH.Shidiq Amien Mantan Ketua Umum persis
7)      KH.Ikin Shadikin Ulama Terkemuka Persis
8)      KH. Usman Sholehudin Ketua Dewan Hisbath

Pada masa awal pembantukannya keanggotaan awal Persatuan Islam kurang dari dua puluh orang; pada tahun0 tahun pertama, aktivitas berkisar tentang shalat jum`at ketika orang para anggota datang bersama- sama dan menyangkut kursus- kursus pengajaran agama yang diberikan oleh sejumlah anggota Persatuan Islam. Satu- satunya syarat bagi keanggotaan selama periode awal ini adalah ketertarikan pada agama, dan umat Islam yang mewakili faksi kaum muda pada mulanya dicatat di antara anggota- anggotanya.
Setelah keanggotaan Ahmad Hasan pada tahun 1924, Persatuan Islam Indonesia mendukung prinsip modernisasi secara terang- terangan menempatkannya dalam barisan Muslim Modernis.
Orientasi pemikiran modernisasi secara umum diterima oleh sebagian besar anggota Persatuan Islam, tetapi menyingkirkan anggota- anngota yang menganggap mazhab- maxhab sebagai pembimbing utama bagi kehidupan religius. Menjelang tahun 1926, perbedaan antara kecenderungan besar untuki terjadinya perpecahan kelompok yang mendukung pemisahan diri yang terdiri dari kaum tua, mendirikan organisasi tandingan uang terkenal dengan Permoefakatan Islam, sedangkan kelompok yang sisanya mempertahankan nama Persatuan Islam dan menyatakan diri sebagai gerakan Islam Modern.
Persatuan Islam kurang menekankan perluasan keanggotaannya, dan sebelum perang dunia ke II, Persatuan Islam masih merupakan organisasi yang sangat kecil dan agak kendor. Pada 1942 Persatuan islam mengontrol 6 masjid , yang masing- masing mampu menampung 500 jama`ah lebih, dan sejumlah cabang di dirikan oleh sebagian simpatisan di bagian kota besar dan kota kecil.
Sejak awal sekali, pendidikan dalam Islam dan ilmu- ilmunya ditawarkan di tempat pertemuan Pesatuan Islam di Bandung, tetapi mata pelajaran dan kelas dilakukan lebih oleh individu- individu atau kumpulan- kumpulan individu ketimbang oleh organisasi itu sendiri. Ini merupakan perluasan sistem pesantren dimana guru- guru menempel di masjid dan mengajar secara sukarela, dengan bergantung pada hadiah dari para murid dan sawah atau perdagangan untuk penghidupan mereka.
Mengenai persatuan Islam, orang- orang yang sering memberikan ceramah ialah Haji Zamzam, Ahmad Hasan dan berbicara dengan kelas dewasa mengenai akidah Islam. Pada tahun 1927 dibuka kelas untuk murid sekolah Belanda, 1915 memperkenankan pendidikan keagamaan pilihan untuk diberikan sebagai bagian dari sistem umum pendidikan. Pata tahun 1930, pendidikan Islam didirikan oleh anggota Persatuan Islam A.A. Banama yang menguunakan fasilitas- fasilitas Persatuan islam untuk melaksanakan kelas pendidikan dasar pertamanya. Organisasi Pendidikan ini, yang akhirnya dipimpin oleh Muhammad Natsir pada tahun 1932 mendirikan sekolah menengah pertama MULO (Meer Uitgrebeid Lager Onderwijs: pendidikan menengah yang lebih diperluas) dan sekolah pendidikan guru di Bandung, dan di tahun 1938 telah dimulai membuka sekolah di lima tempat lain di Jawa.
Pada Maret 1936, sistem Pendidikan persatuan Islam mengalami reorganisasi agar pendidikannya seragam disamping untuk mengatur bentuk dan menstandarkan isipelajaran yang diberikan oleh guru- guru. Pendirian Pesantren yang di beri nama Pesantren Persaruan Islam, didirikan ada empat puluh siswa, kebanayakan dari Jawa.[9]
b.      Penerbitan
Perioedikal Pertama yang di terbitkan oleh Pesantren Islam, yang berjudul Pembela Islam, terbit pertama kali pada athun 1929, peredaran mencapai kira- kira 2000 eksemplar dan diijinkan oleh pejabat yang berwenang.
Pada tahun 1931 majalah al Fatwaa diterbitkan oleh Pembela Islam, diterjemahkan ke dalam bahasa jawi (arab Pegon; bahasa Melayu yang ditulis dengan huruf Arab). Majalah didistribusikan di Saumatera, kalimantan dan seluruh Jawa. Setelah tahun 1935, dengan penutupan Pembela Islam, Persatuan Islam menerbitkan Al Lisan. Periodikal ini terbit hingga awal tahun 1942, ketika Pendudukan Jepang dimulai.[10]
Untuk mempermudah pemahaman- pemahaman istilah agama, Ahmad Hassan mengembangkan sistem transliterasi dimana istilah- istilah agama dalam bahasa Arab yang tak terjemahkan bisa ditertapkan huruf- huruf Indonesianya yang akan membantu pembaca dalam memngucapkannya.[11]
c.       Membela Islam
Aspek terakhir aktivitas Persatuan Islam adalah usaha para anggotanya untuk membela Islam dari apa yang mereka anggap sebagai ancaman bagi eksistensi atau kemurnian Islam. Sebagai akibatnya, secara terbuka mereka menantang setiap individu dan organisasi yang mereka yakini salah paham, salah tafsir atau menyimpangkan akidah dan amaliah yang benar. Persatuan Islam menantang kaum Nasionalis sekuler yang di pimpin oleh Soekarno, Nahdlatul Ulama karena mengikuti jurisprudensi klasik dan mempertahankan pemdapat klasik dalam dalam masalah ritual, dan juga mendebat kelompok- kelompok modernis.
Pembela Islam dan Al Lisan digunakan sebagai sarana untuk melancarkan polemik, dan perdebatan terbuka pun di depan umum digunakan untuk membuat posisinya diketahui mengenai pandangan – pandangan yang dianggapnya salah.[12]

Menurut sumber resmi di kantor pusatnya di Bandung, keadaan anggota Persatuan Islam pada pertengahan 1963 diperkirakan berjumlah 10.000. keadaan ini barangkali mencakup anggota- anggota dari organisasi wanita persatuan Islam Istri, organisasi pemuda wanita jam’iyatul Banat, dan organisasi lelaki Pemuda Persatuan Islam.
Struktur organisasi Persatuan islam Indonesia dipusatkan pada Badan Pusat di bandung. Di markas pusat ini terdapat beberapa bagian yang menangani dan mengkoordinasikan kegiatan- kegiatan organisasi, beberapa bagian dalam organisasi ini, yaitu; bagian tabligh, bagian Pendidikan, bagian penyiaran, bagian wanita, dan bagian Pemuda.
Cabang- cabang Persatuan Islam berdiri di seluruh daerah di Jawa Barat dan beberapa daerah di luar Jawa seperti di Palembang sumatera, dan Bangil Jawa timur. Setiapp cabang menyelenggarakan kegiatan secara umum berhubungan dengan Pengurus Pusat, dan pada umumnya kegiatan di cabang lebih konsentrasi dalam bidang Pendidikan, sehingga hampir setia cabang berdiri satu sekolah.[13]  
b.      Tokoh- Tokoh Pimpinan
Ketiika Persatuan islam di tata kembali pada tahun 1948, Muhammad Isa Anshary menjadi Ketua Umum, ia tetap dalam posisi itu hingga tahun1961. Muhammad Natsir masih menjalin hubungan dan sering membantu Bangil dalam pembangunan fasilitas- fasilitas pendidikan pada tahun 1950-an. Tokoh yang lain diantaranya Ahmad Hassan, Abdurrahman, Hadji Moehammad MoenawirChalil. Dan terdapat beberapa tokoh setelah revolusi, diantaranya; Muhammad Ali Alhamidy, Abdulkadir Hassan, putra Ahmad Hassan, K.H.E. abdullah, K.H.I. Sudibjo, Mohammed bin Salim Nabhan, Abdullah Musa dan Anwar Katsir.
c.       Fasilitas Pendidikan
Sistem Pendidikan Indonesia ada di Bandung ditangani oleh bagian pendidikan yang sekaligus menjaga kualitas pendidikan di Bandung. Pada 1963, Persatuan islam menangani sekitar 20 sekolah denga sekitar 6000 pelajar.
Sekolah dasar ditempuh selama 6 tahun. Selama dua tahun pertama, 75%, dari waktu ke waktu sekolah itu di alokasikan bagi mata pelajaran agama, 25% bagi mata pelajaran umum.sedangkan pada 40 ahun terakhir, waktu pendidikan diSekolah Dasar itu di bagi seimbang antara dua jenis mata pelajaran di atas.
Fasilitas pendidikan tingkat akademik Persatuan Islam dibangun di Bangil yang terdiri dari dua sekolah yang terpisah dan berbeda yang kemudian di tutup dan kemudian di buka dan di tata kembali serta di ganti nama dengan Universitas Persatuan Islam. Universitas ini memiliki program pendidikan lima tahun. Dan mata kuliahnya sama dengan mata pelajaran di sekolah Persatuan Islam yang lain, yakini Bahasa Arab, Qur’an, hadits, Ushul Fiqh, tauhid,dan lain- lain, hanya saja pengkajiannya lebih diperdalam.[14]
d.      Penerbitan
Majalah Persatuan Islam yang pertama kali terbit setelah perang adalah Aliran Islam, yang mulai terbit pada akhir tahun 1948. Setelahnya terbitlah beberapa majalah lain, diantaranya Al Muslimun,Pembela Islam, Hdjdjatul islam, Risalah, Suara ahlis Sunnah wal Jama’ah, dan Hikmah[15]. Persatuan Islam juga membuat karya berupa buku- buku yang tak jaran merupakan permintaan dan digunanakn oleh sekolah- sekolah sekaligus sebagai karya- karya rujukan bagi orang- orang yang tyertarik dalam masalah- masalah agama. [16]
e.       Peran Penting fiqh
Tekanan fatwa Persatuan Islam setelah masa perang lebih menyuarakan masalah- masalah politik, yang merefleksikan gagasan umum nasionalisme, dasar filosofis negara, dan kecaman terhadap kecenderungan politik yang bertentangan dengan tujuan- tujuan politik utama Islam.
Kebanyakan fatwa- fatwa yang di keluarkan oleh anggota- anggota Persatuan Islam setelah ,masa perang lebih banyak berhubungan dengan masalah- masalah ibadah. Mereka berusaha untuk menghilangkan praktek- praktek tertentu yang tidak berasal dari ajaran Islam yang sebenarnya.
Kekurangan fatwa- fatwa Persatuan Islam ialah tidak adanya pembicaraan mengenai masalah- masalah sosial yang muncul bersamaan dengan kemajuan teknologi dan pembangunan masyarakat dalam 50 tahun yang berlalu, fatwa juga tidak membicarakan tentang keberagamaan kaum Muslimin di Indonesia.[17]

4.      Pembaharuan yang dilakukan Persatuan Islam Indonesia
Dalam kepemimpinan persis periode pertama (1923-1942) berada di bawah pimpinan H. Zam-zam, Muhammad yunus, Ahmad hasan, dan Muhammad Natsir yang menjalankan roda organisasi pada masa penjajahan colonial belanda, dan menghadapi tantangan yang berat dalm menyebarkan ide-ide dan pemikirannya. Pada masa penduduk jepang (1942-1945), ketika semua organisasi islam dibekukan, para para pemimpin dan anggot persis bergerak sendiri-sendiri menentang usaha Niposisasi dalam pemusyrikan ala jepang,hingga menjelang proklamasi kemerdekaan pasca kemerdekaan, persis mulai reorganisasi yang telah di bekukan selama penduduk jepang, Melalui reorganisasi tahun 1941, kepemimpinan persis di pegang oleh para ulama generasi kedua diantaranya KH. M. Isa Anshari, sebagai ketua umum persis (1948-1960), K.H.E. Abdurahman, Fakhrudin Al-khahiri, K.H.O. Qomaruddin Saleh, dan lain-lain.
Pada masa ini persis dihadapkan pada pergolakan politik yang belum stabil, pemerintah republik Indonesia seperti mulai tergiring kearah demokrasi terpimpin yang di rancangkan oleh presiden Soekarno dan mengarah pada pembentuk negara dan masyarakat dengan ideologi Nasionalis, agama, komonis (NASAKOM), Setelah berakhirnya periode kepemimpina K.H. Muhammad Isa Ansshary, kepemimpinan persis di pegang oleh K.H..E. Abdurahman (162-1982) yang dihadapkan pada berbagai persoalan eksternal dengan munculnya berbagai aliran keagamaan yang menyesatkan seperti aliran pembaharu isa bugis, isa bugis, islam jama’ah, darul hadist, inkarus sunnah, syi’ah, ahmadiyah dan faham sesat lainnya. Kepemimpinan K.H.E Abdurahman dilanjutkan oleh K.H.A LAtif Muctar, MA (1983-1997) dan K.H. Shiddiq Amien (1997-2005) yang merupakan proses regenerasi dari tokoh-tokoh persis kepada eksponen organisasi otonom kepemudaan (pemuda persis).
Pada masa kini persis berjuang menyesuaikan diri dengan kebutuhan umat pada masanya yang lebih realitis dan kritis, Gerak perjuangan persis tidak terbatas pada persoalan ibadah dalam arti sempit, tetapi meluas pada persoalan-persoalan ibadah dalam arti sempit, tetapi meluas kepada persoalan strategis yang di butuhkan oleh umat islam terutama pada urusan muamalah dan peningkatan pengkajian pemikir keislaman. [18]
Jadi persis pada saat ini sangat dibutuhkan oleh umat islam terutama pada urusan muamalah dan pengkajian pemikiran keislaman dan juga gerak perjuangan persis itu tidak terbatas pada persoalan ibadah dalam arti sempit, tetapi juga meluas pada persoalan strategis.
Pada dasarnya, perhatian persis ditujukan terutama pada faham Al-Qur’an dan sunnah, hal ini dilakukan berbagai macam aktifitas diantaranya dengan mengadakan pertemuan-pertemuan umum, tablgh, khutbah, kelompok studi, tadarus, mendirikan sekolah-sekolah (pesantren ), menerbitkan majalah-majalah dan kitab-kitab, serta, serta berbagai aktifitas keagamaan lainnya, tujuan utmanya adalah terlaksananya syari’at islam secara kaffa dalam segala aspek kehidupan, untuk mencapai tujuan jam’iyyah, persis melaksanakan berbagai kegiatan antara lain pendidikan yang mulai dengan mendirikan pesaantren persis pada tanggal 4 maret 1936, dari pesantren persis ini kemudian berkembang berbagai lembaga pendidikan mulai dari Raudlatul Athfal (taman kanak-kanak ) hingga perguruan tinggi, kemudian menerbitkan berbagai buku, kitab-kitb, dan majalah antaralain majalah pembela Islam (1929 ), majalah Al-fatwa,(1931), Al-lissan (1935), majalah At-taqwa (1937) majalah Al-hikam (1939), majalah Aliran islam (1948), majalah risalah (1962), serta berbagai majalah yang di terbitkan di cabang-cabang persis.
Selain pendidikan dan penerbitan, kegiatan rutin adalah menyelenggarakan pengajian dan diskusi yang banyak di gelar di daerah-daerah, baik atas inisiatif pimpinan pusat persis maupun permintaan dari cabang-cabang persis, undang-undang dari organisasi islam lainnya, serta masyarakat luas.

B.     NAHDLATUL ‘ULAMA
a.      Sejarah NU
Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kyai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar.
Untuk menegaskan prisip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasyim Asy'ari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam khittah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.[19]
Nahdlatul ‘Ulama dilahirkan pada 1926 oleh sejumlah tokoh ulama tradisional dan usahawan jawa timur. Pembentukaanya sering kali dijelaskan sebagai reaksi terhadap berbagai aktivitas kaum reformis, Muhammadiyah, kelompok modernis moderat yang aktif dlam gerakan politik. Rapat pendirian NU berlangsung di Surabaya dan kebanyakan anggota pendirinya menetap dan bekerja di kota tersebut, namun opriendati dasarnya bersifat perkotaan.[20]
b.      Paham Keagamaan
Nahdlatul Ulama (NU) menganut paham Ahlussunah Wal Jama'ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya Al-Qur'an, Sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu, seperti Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fikih mengikuti empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.
Gagasan kembali ke khittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil membangkitkan kembali gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.
Penuturan Ahmad bin Hanbal menyebutkan tentang ahlusunnah wal jama’ah:
Ciri- ciri orang beriman penganut ahlusunnah wal jama’ah; bersyahadat dan mengikakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan tiada sekutu bagi- Nya, serta mengakui Muhammad sebagai utusan-Nya, dan mengakui segenap yang di ajarkan para Nabi dan Rasul, meyakini da mengakui apa kyang diucapkannya, serta tidak ragu atas imannya tersebut: tidak mengkafirkan seorangpun dari penganut tauhid dari adanya dosa yang dilakukan, mengembalikan segenap keputusan atas persoalan yang samar- samar dan tidak jelas kepada Allah, serta melimpahkan urusaannya kepada Allah tidak melakukan perbuatan pelanggaran dan dosa, bahwa perlindungan dari Allah semata, dan sekaligus menyadari bahwa segala sesuatu sudah di tentukan takdir baik dan buruknya.: mengaharapkan kebaukan umat Muhammad, memberi rasa tajut kepada orang- orang yang berbuat dosa dan berbuat krkrliruan diantara mereka, serta tidak memvonis salah seorang dari umat Muhammad dengan ganjaran Surga atau neraka karena perbuatan baik atau perbuatan buruk yang dilakukannya sampai Allah sendiri yang memutuskannya sesuai dengan kehendak-Nya: mengakui hak dan kebenaran kaum salaf (orang- orang terdahulu) yang dipilih ileh Allah untuk menjadi sahabat Nabi-Nya, mendahulukan para sahabat Nabi yang pernah di Bukit Hira....., Bersikap kasih sayang kepada semua sahabat Nabi yang muda maupun yang tua, gemar mengungkit ungkit keutamaanb dan kelebihan mereka serta menjaga diri untuk tidak membuka aib perselisihan di antara mereka, dan juga mengakui baha al Qur’an itu Kalam Allah dan wahyu yanh diturunkan kepada umat manusia dan bukan makhluk atau di ciptakan, dan bahw iman itu adalah ucapan dan sekaligus, yanhg bisa bertambah dan bisa juga berkurang.[21]
c.       Organisasi
1)      Tujuan
Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2)      Dinamika
Prinsip-prinsip dasar yang dicanangkan Nahdlatul Ulama (NU) telah diterjemahkan dalam perilaku kongkrit. NU banyak mengambil kepeloporan dalam sejarah bangsa Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa organisasi ini hidup secara dinamis dan responsif terhadap perkembangan zaman. Prestasi NU antara lain:
a)      Menghidupkan kembali gerakan pribumisasi Islam, sebagaimana diwariskan oleh para walisongo dan pendahulunya.
b)      Mempelopori perjuangan kebebasan bermadzhab di Mekah, sehingga umat Islam sedunia bisa menjalankan ibadah sesuai dengan madzhab masing-masing.
c)      Mempelopori berdirinya Majlis Islami A'la Indonesia (MIAI) tahun 1937, yang kemudian ikut memperjuangkan tuntutan Indonesia berparlemen.
d)     Memobilisasi perlawanan fisik terhadap kekuatan imperialis melalui Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada tanggal 22 Oktober 1945.
e)      Berubah menjadi partai politik, yang pada Pemilu 1955 berhasil menempati urutan ketiga dalam peroleh suara secara nasional.
f)       Memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) 1965 yang diikuti oleh perwakilan dari 37 negara.
g)      Memperlopori gerakan Islam kultural dan penguatan civil society di Indonesia sepanjang dekade 90-an.
3)      Basis Pendukung
Jumlah warga Nahdlatul Ulama (NU) atau basis pendukungnya diperkirakan mencapai lebih dari 40 juta orang, dari beragam profesi. Sebagian besar dari mereka adalah rakyat jelata, baik di kota maupun di desa. Mereka memiliki kohesifitas yang tinggi karena secara sosial-ekonomi memiliki masalah yang sama, selain itu mereka juga sangat menjiwai ajaran Ahlusunnah Wal Jamaah. Pada umumnya mereka memiliki ikatan cukup kuat dengan dunia pesantren yang merupakan pusat pendidikan rakyat dan cagar budaya NU.
Basis pendukung NU ini mengalami pergeseran, sejalan dengan pembangunan dan perkembangan industrialisasi. Warga NU di desa banyak yang bermigrasi ke kota memasuki sektor industri. Jika selama ini basis NU lebih kuat di sektor pertanian di pedesaan, maka saat ini, pada sektor perburuhan di perkotaan, juga cukup dominan. Demikian juga dengan terbukanya sistem pendidikan, basis intelektual dalam NU juga semakin meluas, sejalan dengan cepatnya mobilitas sosial yang terjadi selama ini.
4)      Usaha
a)      Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.
b)      Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas.Hal ini terbukti dengan lahirnya Lembaga-lembaga Pendidikan yang bernuansa NU dan sudah tersebar di berbagai daerah khususnya di Pulau Jawa.
c)      Di bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan.
d)     Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.Hal ini ditandai dengan lahirnya BMT dan Badan Keuangan lain yang yang telah terbukti membantu masyarakat.
e)      Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas. NU berusaha mengabdi dan menjadi yang terbaik bagi masyrakat.
5)      Struktur[22]
a)      Pengurus Besar (tingkat Pusat).
b)      Pengurus Wilayah (tingkat Propinsi), terdapat 33 Wilayah.
c)      Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota) atau Pengurus Cabang Istimewa untuk kepengurusan di luar negeri, terdapat 439 Cabang dan
d)     Cabang Istimewa.
e)      Pengurus Majlis Wakil Cabang / MWC (tingkat Kecamatan), terdapat 5.450 Majelis Wakil Cabang.
f)       Pengurus Ranting (tingkat Desa / Kelurahan), terdapat 47.125 Ranting.
g)      Untuk Pusat, Wilayah, Cabang, dan Majelis Wakil Cabang, setiap kepengurusan terdiri dari:
h)      Mustasyar (Penasihat)
i)        Syuriyah (Pimpinan tertinggi)
j)        Tanfidziyah (Pelaksana Harian)
k)      Untuk Ranting, setiap kepengurusan terdiri dari:
                                                                       i.      Syuriyah (Pimpinan tertinggi)
                                                                     ii.      Tanfidziyah (Pelaksana harian)

6)      Pembaharuan NU
Pada dasawarsa 1980 dan 1990 terjadi perubahan mengejutkan didalam lingkungan Nahdatul Ulama ormas terbesar di Indonesia. Perubahan yang paling disoroti media massa dan sering menjadi bahan kajian akademis ialah proses kembali ke khitthah 1926: NU menyatakan diri keluar dari politik praktis dan kembali menjadi jam’iyyah diniyyah, bukan lagi wadah politik, dengan kata lain, sejak muktamar sutibondo (1984) para kiai bebas berafiliasi dengan partai politik manapun mksudnya dengan partai golkar dan menikmati kedekatan pemerintah, NU tidak asing lagi oleh pemerintah, sehingga segala aktifitasnya, pertamuan, seminar tidak lagi dilarang dan malah sering difasilitasi.[23]
 Jadi, dapat di pahami perubahan tersebut merupakan momentum dalam politik orde baru, NU sebagai politik sunni, yang selalu mencari akomodasi dengan penguasa.
Terdapat pula perubahan lainnya dikalangan generasi muda NU terlihat dinamika baru dengan menjamurnya aktivitas sosial dan intelektual, yang nyaris tak tertandingi oleh kalangan masyarakat lain, selama ini NU di anggap ormas yang paling konservatif dan tertutup, dan sedikit sekali punya sumbangan kepada perkembangan pemikiran keagamaan maupun pemikiran sosial dan politik, prihal pemikiran keagamaan NU justru didirikan sebagai wadah para kiai untuk bersama-sam bertahan terhadap garakn pembaharuan pemikiran islm yang di wakili oleh Muhammadiyah, Al-irsyad dan persis, Nu hanya manerima interprestasi islam yang tercantum dalam kitab kuning “ortodoks” al-kutub al- mu’tabarah, terutama fiqh Syafi’I dan aqidah menurut mazhab asy’ari, dan menekan tklid kepada ulama besar pada masa lalu.
Dengan latar belakang aktivitas-aktivitas kemasyarakatan dan ekonomi di sekitar pesantren yang mulai menjamur pada akhir dasawarsa 1970 dan 1980, muncul wacana-wacana baru, yang berani mempertanyakan interprestasi khazana klasik yang sudah mapan dan mencari relevansi tradisi islam untuk msyarakat yang sedang mengalami perubahan secara cepat, merupakan suatu perkembangan revolusioner, baik daalam aktivitas LSM maupun dalam wacana yang berkembang.
Perhatian mulai bergeser dari para kiai sebagai tonggak organisasi NU kepada massa besar, akar rumput yang merupakan mayoritas jama’ahnya tetapi kepentingannya selama ini lebih sering terabaikan. Dominasi akivitas dan wacana NU dan keturunan mereka (kaum Gus-gus), telah mulai terdobrak, sebagian besar aktivis dan pemikir muda yang memberi nuansa kepada NU pada dasawarsa 1980 dan 1990 tidak berasal dari kasta kiai melainkan dari keluarga awam, yang mengalami mobilitas sosial, tetapi perlu kita dicatat bahwa mereka bias muncul karena mnendapat dukungan dan perlindungan dari sejumlah tokoh muda dari kalangan elit seperti, Fahmi sifuddin, Mustafa bisri, dan Abdurahman Wahid.
Nahdatul Ulama (NU) adalah salah satu organisasi Massa Islam yang sangat berperan dalam pembentukan Masyumi, tokoh NU, K.H. Hasyim asy’ari terpilih sebagai pimpinan tertinggi masyumi pada saat itu, tokoh-tokoh NU lainnya banyak yang duduk dalam pengurusan Masyumi dan karena keterlibatan NU dalam masalah politik menjadi sulit dihindari.
Nahdatul ulama kemudian keluar dari masyumi melalui surat keputusan pengurusan besar Nahdatul Ulama (PBNU) pada tanggal 5 april 1952 akibat adanya pergesekan politik diantara kaum intelektual Masyumi yang ingin melokalisasikan para kiai NU pada persoalan agamanya saja. Hubungan antara kedua partai tersebut NU keluar dari partai Masyumi diakibatkan, pergesekkan politik kaum intelektual partai Masyumi yang ingin melokalisasi para kiai NU yang mengurusi pada persoalan agama saja[24]












BAB III
KESIMPULAN

            Dari uaraian di atas, maka dapat di simpulkan bahwa pembaharuan yang dilakukan oleh Persatuan Islam atau Persis diantaranya
  1. Sebelum Perang Dunia II
     Penekanan pada Pendidikan
     Penerbitan
     Membela Islam
  1. Organisasi setelah Perang dunia ke II
     Organisasi dan Keanggotaan
     Tokoh- Tokoh Pimpinan
     Fasilitas Pendidikan
     Penerbitan
     Peran Penting fiqh
Dan pembaharuan yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama atau NU diantaranya:
  1. 1980 dan 1990: kembali ke khitthah
     1926: NU menyatakan diri keluar dari politik praktis dan kembali menjadi jam’iyyah diniyyah
  1. Dikalangan generasi muda NU terlihat dinamika baru dengan menjamurnya aktivitas sosial dan intelektual yang nyaris tak tertandingi oleh kalangan masyarakat lain
  2. 1970 dan 1980, muncul wacana-wacana baru, yang berani mempertanyakan interprestasi khazana klasik yang sudah mapan dan mencari relevansi tradisi islam
  3. 1980 dan 1990 dominasi aktivitas dan wacana tidak hanya berasal dari kasta kiai melainkan dari keluarga awam, yang mengalami mobilitas sosial




DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Hassan, al Furqon (Tafsir  Qur’an) (surabaya; Salim Nabhan, 1956)
Baso, Ahmad. 2006. NU Studies; Pergolakan antara Fundamentalisme islam & fundamentalisme neo- Liberal. Jakarta: Erlangga.
Howard M.Federspiel, Persatuan Islam,Pembaharuan Islam Indonesia Abad XX
Islam Digest , Republika, Ahad, 3 Oktober 2010 / 24 Syawal 1431 H
Martin van Bruinessen, NU Tradisi, Relasi- Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru. (Yogyakarta: LkiS, 1994)
Persatuan Islam, Yayasan Pesantren di Bangil, Pesantren bagian Putra dan Putri (Bangil: Paersatuan Islam, 1960)
http://persatuan islam.wordpress.com
http://organiasi islam.wordpres.com,



[1] Howard M.Federspiel, Persatuan Islam,Pembaharuan Islam Indonesia Abad XX,hlm.14
[2] Islam Digest , Republika, Ahad, 3 Oktober 2010 / 24 Syawal 1431 H
[4] Howard M.Federspiel Op.Cit., hlm.14
[5]  Wildan, Sejarah Perjuangan, hlm. 41
[6]  Ibid., hlm. 29-30
[7] Islam Digest , Op. Cit.,
[9] Persatuan Islam, Yayasan Pesantren di Bangil, Pesantren bagian Putra dan Putri (Bangil: Paersatuan Islam, 1960), hlm. 2-3
[10] Howard m. Federspiel. Op.Cit hlm. 26
[11]  Howard m. Federspiel. Op.Cit., hlm.29
[12] Ibid., hlm. 33
[13] Ibid., hlm. 157
[14] Persatuan Islam, pesantren; Bagian Putera dan Puteri, hlm. 16-17
[15] Ibid., hlm. 167-68
[16] Ahmad Hassan, al Furqon (Tafsir  Qur’an) (surabaya; Salim Nabhan, 1956)
[17] Howard m. Federspiel. Op.Cit hlm. 172-173
[18] http://persatuan islam.wordpress.com  2010, 14:30
[20] Martin van Bruinessen, NU Tradisi, Relasi- Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru. (Yogyakarta: LkiS, 1994) hlm. 17
[21] NU studies 79-80
[23] http://organiasi islam.wordpres.com, 2007 11:05).